BritaAktualNews.com // CIAMIS JABAR – Situs Ciung Wanara Karang Kamulyan Bojong Galuh, Desa Karangkamulyan, Kecamatan Cijeunjing, Kabupaten Ciamis, pada Selasa, 9 September 2025, berubah menjadi pusat perhatian ribuan pasang mata. Upacara peringatan Milangkala ke-16 Gong Perdamaian Dunia berlangsung semarak, penuh warna, sekaligus sarat makna.
Dengan tema “Perdamaian Menyatukan Hati”, perayaan tahun ini tidak sekadar sebuah ritual, melainkan panggung kebhinekaan. Kirab budaya, Rajah Pasundan, prosesi Ngagungkeun Gong, hingga pertunjukan seni dan tari menjadi simbol bahwa Galuh masih teguh menjaga warisan damai leluhurnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Jejak Galuh: Damai sebagai Nafas Kehidupan
Bupati Ciamis, Herdiat Sunarya, menegaskan bahwa nilai perdamaian bukanlah hal baru bagi masyarakat Galuh. Sejak ratusan tahun silam, semangat itu telah diikat dalam Mupulung Rahayu—sepuluh perjanjian damai Galuh yang diwariskan leluhur.
“Masyarakat Galuh sejak dulu cinta damai. Perselisihan tidak boleh jadi jalan. Semua masalah diselesaikan lewat musyawarah, bukan permusuhan,” tutur Herdiat dengan nada tegas.
Ia menilai pesan tersebut amat relevan dengan situasi bangsa hari ini. “Kita sedang menghadapi situasi negara yang tidak mudah, baik dalam hal ekonomi maupun keamanan. Maka marilah kita mulai dari Ciamis, dari diri sendiri, menjaga kerukunan, saling menghormati, dan menebarkan perdamaian,” imbuhnya.
Herdiat juga menyampaikan bahwa Gubernur Jawa Barat Kang Dedi Mulyadi urung hadir lantaran cuaca buruk menggagalkan penerbangan. “Beliau sebenarnya sudah di bandara, tapi kondisi cuaca tidak memungkinkan untuk terbang,” jelasnya, Selasa (9/9/2025).
Gong: Simbol Universal Cinta dan Kasih
Penggagas Gong Perdamaian Dunia, HM Anton Charlian, menyampaikan filosofi mendalam dari keberadaan gong tersebut. Menurutnya, gong adalah lambang universal dari kasih sayang, persaudaraan, dan kedamaian lintas agama maupun bangsa.
“Sejak tahun 739, leluhur Sunda telah melarang perang saudara, permusuhan, hingga dendam. Yang dijunjung tinggi adalah musyawarah, gotong royong, dan saling menghormati. Nilai ini yang kemudian dilestarikan dalam Gong Perdamaian Dunia,” ungkap Anton.
Ia menjelaskan pula, mengapa gong ditempatkan di Galuh. “Tanah Galuh adalah tanah damai. Karena itu, setiap gong perdamaian yang dibangun di dunia harus menyertakan tanah dari Kuta Galuh sebagai simbol. Galuh adalah sumber perdamaian Nusantara,” paparnya.
Lebih lanjut, Anton menyinggung filosofi ikat Galuh dengan bulu ayam, perlambang Ciung Wanara—kesatria gagah berani yang tetap menjunjung tinggi perdamaian. “Semangat juang harus dibarengi dengan hati yang teduh dan damai,” tambahnya.
Peringatan yang Menggema Hingga Dunia
Peringatan 16 tahun Gong Perdamaian Dunia bukan hanya milik Ciamis, melainkan gema pesan global. Nilai luhur yang dipentaskan dalam tarian, rajah, hingga prosesi budaya adalah pengingat bahwa perdamaian sejati lahir dari hati manusia, bukan dari senjata.
Dari tanah Galuh, pesan itu diharapkan terus menjalar ke seluruh penjuru Nusantara, bahkan menggema ke dunia.
“Perdamaian bukan sekadar kata, melainkan jalan hidup. Dan Gong Perdamaian Dunia adalah pengingat abadi bagi kita semua,” tutup Anton. [ast_gpwk]







