BritaAktualNews.com//BANDUNG – Rabu siang nan panas di Bandung, 29 Juli 2026. Di ruang Sanggar Karawitan PTDI, hawa justru “ayem tentrem”. Bukan karena AC, tapi karena denting kenong, gong, dan saron yang mengalun silih berganti. Tiga paguyuban karawitan duduk satu ruang, satu rasa: Rekso Budoyo 2 PTDI, Sanyuri, dan Asmari.
Ketika Sepuh Masih Semangat Nguri-uri
Mereka datang bukan untuk manggung. Datang untuk latihan. Tapi semangatnya melebihi panggung. Dari sudut ruangan, 14 anggota Sanyuri — Karawitan Santi Paguyuban Kediri Priangan di Bandung — duduk menunduk, fokus menabuh. Total mereka datang sekitar 20 orang. Usia? Sudah sepuh. Tapi menolak disebut “manula tak produktif”.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Djoko Agoes Setijono, penabuh kenong Sanyuri, tersenyum sambil mengelap keringat.
“Manfaat latihan bersama ini jelas. Biar cinta sama budaya Jawa makin kuat. Biar silaturahmi jalan. Kalau saya pribadi, nabuh gamelan itu obat. Bikin bahagia, bikin batin tenang,” katanya.
Di sisi lain, Rekso Budoyo 2 PTDI juga menurunkan 17 pengrawitnya. Mereka adalah para pensiunan PTDI. Pensiun dari kantor, tidak pensiun dari budaya.
Lima gending klasik mereka bawakan: Ladrang Wilujeng, Ayun-ayun, Sibokastowo, dirangkai Srepeg Mataraman. Tabuhannya mantap, meski tangan sudah berkeriput.
“Latihan ini untuk saling menyemangati. Sekaligus evaluasi. Biar kita nggak berhenti,” ujar Purwoko Sudarmo dari Rekso Budoyo 2.
Gending Klasik Bertemu Banyumasan
Giliran berganti. Kali ini Asmari — paguyuban Alumni SMA Negeri Purwokerto di Bandung — yang maju. 12 anggotanya membawa angin dari barat. Gending gagrak Banyumasan mereka tabuh: Manyar Sewu, Singa Nebah, Ricik-ricik Banyumasan, Getuk Goreng, sampai Warudoyong.
Sementara gending-gending populer lain juga tak ketinggalan. Lancaran, Ketawang, Ladrang, Ayak-ayak, Srepegan, Sampak. Ada juga yang bikin riuh: Kebogiro, Kudamangsah, Tropong Bang, Mentog-mentog, Kupu Kuwi, Langgam Setya Tuhu, E Jamu E Jamune, Kangening Ati, dan Aja Lamis.
Tiga gaya, tiga daerah, satu ruangan. Klasik Mataraman ketemu Banyumasan. Sepuh ketemu sepuh. Tawa kecil sesekali terdengar di sela latihan.
Ini latihan bersama kedua kalinya. Tuan rumahnya, Sanggar Karawitan Rekso Budoyo PTDI.
Mimpi Satu Panggung
Obrolan ringan mengalir setelah tabuhan terakhir. Purwoko menyampaikan harapannya.
“Ke depan kami ingin merangkul semua sanggar karawitan yang masih aktif latihan di Bandung. Kita bikin satu panggung. Biar masyarakat umum bisa lihat. Biar gamelan ini nggak cuma hidup di sanggar,” ujarnya.
Di luar, matahari masih terik. Tapi di dalam, suasana hangat. Bukan karena cuaca. Tapi karena ada orang-orang yang masih mau duduk berjam-jam, hanya untuk menjaga satu nada tetap hidup. Mungkin inilah cara mereka melawan sepi dan lupa. Dengan menabuh. Bersama.[gp]







