Racun Merkuri dari PETI: Lingkungan Rusak, Kesehatan Warga Kabupaten Tebo Terancam

- Redaksi

Sabtu, 11 Juli 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BritaAktualNews.com //TEBO – Di balik kilau emas yang dihasilkan dari aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI), tersimpan ancaman serius terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat. Selain menyebabkan kerusakan hutan dan pencemaran sungai, penggunaan merkuri (air raksa) dalam proses pengolahan emas juga berpotensi menimbulkan dampak jangka panjang bagi manusia.

Di sejumlah lokasi PETI di Kabupaten Tebo, merkuri masih digunakan untuk memisahkan emas dari material tanah. Setelah proses tersebut selesai, amalgam yang mengandung emas dibakar sehingga menghasilkan uap merkuri yang dilepaskan langsung ke udara tanpa pengendalian.
Padahal, uap merkuri tidak memiliki warna maupun bau sehingga sulit dideteksi. Zat berbahaya ini dapat terhirup manusia, kemudian mengendap kembali ke tanah dan perairan melalui hujan, sehingga mencemari rantai makanan.

Kerusakan Lingkungan Kian Meluas
Dampak aktivitas PETI tidak hanya terlihat pada lokasi penambangan, tetapi juga meluas ke kawasan sekitar.
Pembukaan lahan tambang menyebabkan hutan mengalami kerusakan dan menyisakan lubang-lubang besar yang tidak direklamasi. Kondisi tersebut meningkatkan risiko longsor, banjir, dan degradasi lahan saat musim hujan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Selain itu, limbah lumpur hasil penambangan kerap mengalir ke sungai sehingga menyebabkan air menjadi keruh. Kondisi ini mengancam ekosistem perairan, menurunkan populasi ikan, serta mengurangi ketersediaan sumber air bersih bagi masyarakat.
Merkuri Ancam Kesehatan Masyarakat

Berdasarkan informasi dari Kementerian Kesehatan, merkuri merupakan logam berat yang dapat menyerang sistem saraf dan organ tubuh lainnya. Paparan merkuri umumnya tidak langsung menimbulkan gejala, tetapi dapat terakumulasi dalam tubuh selama bertahun-tahun.

Kelompok yang paling rentan adalah ibu hamil, bayi, dan anak-anak karena merkuri dapat mengganggu perkembangan otak janin dan meningkatkan risiko gangguan tumbuh kembang. Pada orang dewasa, paparan berkepanjangan dapat menyebabkan gangguan saraf, tremor, kerusakan ginjal, serta berbagai gangguan kesehatan lainnya.

Masyarakat di sekitar wilayah pertambangan juga mengaku mulai merasakan dampak terhadap hasil pertanian dan perikanan. Sejumlah lahan pertanian mengalami penurunan produktivitas, sementara hasil tangkapan ikan di sungai semakin berkurang.
Dilema Ekonomi Masyarakat
Di sisi lain, aktivitas PETI masih menjadi pilihan sebagian warga karena dianggap mampu memberikan penghasilan yang relatif cepat.

Keterbatasan lapangan pekerjaan membuat banyak masyarakat tetap bergantung pada sektor pertambangan ilegal untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah dalam upaya penertiban, mengingat lokasi tambang yang berpindah-pindah dan umumnya berada di kawasan hutan yang sulit dijangkau.

Perlunya Penanganan Menyeluruh
Sejumlah pemerhati lingkungan menilai penanganan PETI tidak cukup hanya melalui penegakan hukum terhadap para penambang. Upaya tersebut juga perlu menyasar jaringan pemasok merkuri, penadah emas, serta pihak-pihak yang memperoleh keuntungan dari aktivitas ilegal tersebut.
Selain penindakan, pemerintah juga didorong untuk meningkatkan edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya penggunaan merkuri serta memperkenalkan teknologi pengolahan emas yang lebih ramah lingkungan.
Program reklamasi lahan bekas tambang juga dinilai penting agar kawasan yang telah rusak dapat dipulihkan secara bertahap. Di sisi lain, pengembangan ekonomi alternatif melalui koperasi desa, BUMDes, pertanian, perkebunan, maupun usaha produktif lainnya diharapkan mampu mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap PETI.

Kerusakan lingkungan akibat PETI bukan hanya persoalan hari ini, tetapi juga menyangkut keberlangsungan sumber daya alam dan kesehatan generasi mendatang. Karena itu, dibutuhkan komitmen bersama antara pemerintah, aparat penegak hukum, tokoh masyarakat, dan warga untuk mencari solusi yang mampu melindungi lingkungan sekaligus memberikan pilihan mata pencaharian yang lebih aman dan berkelanjutan.

Fakta Singkat
Merkuri merupakan logam berat yang digunakan dalam proses pemisahan emas.
Paparan merkuri dapat berdampak pada sistem saraf, ginjal, serta perkembangan janin dan anak.
Jalur pencemaran dapat terjadi melalui udara, kemudian mengendap ke tanah dan sungai, masuk ke ikan, lalu dikonsumsi manusia.
Kerusakan akibat PETI meliputi deforestasi, pencemaran sungai, degradasi lahan, dan meningkatnya risiko bencana lingkungan.

(Murder)

Berita Terkait

Tabuh Gamelan di Tengah Terik, Tiga Generasi Karawitan Bandung Temu Rasa
Regenerasi Wayang Kulit: Milad Papeling Bandung Jadi Panggung Pertama Dalang Muda Purbalingga
Bupati Purwakarta Minta Evaluasi Keamanan Waduk Jatiluhur Usai Petugas Ditemukan Tewas
Gelombang Tinggi di Muara Sungai Cikidang Pangandaran, Perahu Nelayan Terbalik dan Mercusuar Merah Patah
Topeng Sukses Serapan APBD Bogor Dibongkar BPK, LSM KCBI: TAPD dan Bappenda Harus Bertanggung Jawab Secara Hukum!
Kadivhumas Polri Mendampingi Bapak Kapolri Menghadiri Peresmian Kantor Sekretariat Bersama Koalisi Besar Perjuangan Buruh Indonesia (KBPBI)
Di Tengah Efisiensi Anggaran Dr. H. Edi Purwanto Hadirkan Program P3-TGAI Bantu Pejuang Petani
Penanganan Dugaan Kasus Sekdes Selawangi Disorot LSM KCBI, Transparansi Polsek Tanjungsari Dipertanyakan
Tag :

Berita Terkait

Rabu, 29 Juli 2026 - 12:30 WIB

Tabuh Gamelan di Tengah Terik, Tiga Generasi Karawitan Bandung Temu Rasa

Selasa, 28 Juli 2026 - 08:11 WIB

Regenerasi Wayang Kulit: Milad Papeling Bandung Jadi Panggung Pertama Dalang Muda Purbalingga

Selasa, 28 Juli 2026 - 07:31 WIB

Bupati Purwakarta Minta Evaluasi Keamanan Waduk Jatiluhur Usai Petugas Ditemukan Tewas

Selasa, 28 Juli 2026 - 07:28 WIB

Gelombang Tinggi di Muara Sungai Cikidang Pangandaran, Perahu Nelayan Terbalik dan Mercusuar Merah Patah

Sabtu, 25 Juli 2026 - 14:19 WIB

Topeng Sukses Serapan APBD Bogor Dibongkar BPK, LSM KCBI: TAPD dan Bappenda Harus Bertanggung Jawab Secara Hukum!

Berita Terbaru